Indonesia Kekurangan Ahli dan Alat Pemantau Gunung Api

BERITA SATU : Sebagai negara dengan jumlah gunung api terbanyak di dunia, Indonesia sangat kekurangan tenaga ahli dan alat detektor pemantau aktivitas vulkanologi.

Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan dari 127 gunung api aktif di Indonesia hanya 69 yang terpantau dan itupun masih jauh dari keadaan ideal, baik dari segi peralatan, maupun dari segi Sumber Daya Manusia.

“Di Jepang, untuk Gunung Sakurajima saja, pos pemantauan dipimpin oleh seorang Profesor dan lima orang Doktor, sementara disini saya hanya dikasih Rp100 miliar per tahun untuk memberi makan 500 orang yang memantau longsor, tsunami, gempa, dan erupsi sekaligus” ujar Surono.

Surono mengatakan di Indonesia gunung api diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu tipe A, B dan C. Tipe A menjadi prioritas karena terdiri dari gunung api yang pernah meletus setidaknya satu kali sejak tahun 1600.

Sedangkan tipe B dan C seringkali tidak mendapat pemantauan sama sekali karena gunung-gunung tersebut sudah tidak pernah mengalami letusan sejak tahun 1600.

“Gunung tipe A ada 69 buah, kebanyakan hanya punya alat pengukur seismic kegempaan, idealnya satu pos punya empat seismic kegempaan, tapi ini bahkan banyak yang punya satu seismic meter, dan hanya beberapa pos yang punya peralatan yang lebih canggih seperti GPS,” paparnya.

Padahal menurut Surono baik gunung tipe A, B maupun C sama bahayanya karena sama-sama bisa meletus kapan saja.

“DiJepang, dengan 105 gunung api, mereka tidak mengenal tipe A, B atau C, setahu mereka ya semuanya gunung aktif, di Indonesia juga sebenarnya begitu, tetapi karena banyak keterbatasan kita harus membuat prioritas,” imbuh Surono.

“Gunung Sinabung di Sumatera Utara misalnya, gunung tersebut tidak pernah meletus sejak tahun 1600, dan masuk kategori tipe B, eh ternyata tahun 2010 meletus juga dan pengungsinya banyak sekali. Saya harus mengubah tipe gunung tersebut dari B menjadi A sebelum mengumumkan statusnya jadi awas,” tambah Surono.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kelengkapan pos pemantauan gunung api sangatlah krusial karena ada setidaknya lima juta masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar gunung api, dan kebanyakan dari gunung api tersebut adalah gunung api kota yang jaraknya tidak begitu jauh dari pemukiman.

“Saya tidak minta muluk-muluk setiap pos harus ada profesor dan doktor, minimal alatnya deh dilengkapi, selama ini saya hanya bergantung pada belas kasihan donor,” pungkas Surono.